Monday, December 8, 2014

Tour de Java II

Pendaratan di Adi Sucipto disambut hujan (lagi). Kunjungan pertama tahun lalu juga disambut dengan hujan.
Setelah ngobrol-ngobrol dikit dengan sahabat, kami berdua langsung pamit duluan. Langsung menuju tempat parkir, bukan bermaksud nyari penjemput, tapi nungguin Bus Trans Jogja.
Nunggu beberapa menit, Bus Trans Jogja yang akan membawa kami ke Malioboro udah datang. Buru-buru naik dengan maksud mendapatan tempat duduk, tapi kali ini belum beruntug, saya harus berdiri sampin bapak kondektur.
Sampai malioboro, hujan udah reda, hal pertama yang kami pikirkan adalah "Nyari Makan". Setelah beberapa saat mutar nyari-nyari tempat untuk makan, akhirnya milih salah satu lesehan yang tempatnya cukup asyik.
Sambil menikmati makanan, terdengar samar-samar mengalun dengan indah lagu Katon Bagaskara - Malioboro. -tunggu dulu...- ternyata bukan Malioboronya Katon Bagaskara yang terdengar, tapi sebuah lagu entah milik siapa, yang pasti mengalun bersama suara gitar akustik seorang pengamen.
Selesai makan, gak ada alasan untuk tidak ngiterin sepanjang Malioboro. Sambil nunggu teman yang berniat jemput kami.
***
Jam tujuh malam waktu Jogja, teman yang mau jemput belum datang juga. Sebenarnya udah capek ngegendong ransel, nah dengan alasan itu kami berdua milih duduk selonjoran di taman -namanya taman apa yah?- samping Malioboro.
"Ada tempat masang gembok cinta tuh, ayo pasanag"
"Ayo"
Langsung ngambil gembok pengaman ransel, dan memasangnya di "tugu gembok cinta"
Setelah masang gembok, gak lupa foto-foto dulu :d
Melanjutkan acara selonjoran, sambil ngobrol sana sini, dan sesekali didatangi pengamen dan -gak- sesekali juga harus ditolak. Hal yang gak bisa ditolah adalah kedatangan cewe-cewe menawarkan jualannya berupa bunga mawar merah yang katanya untuk nambah dana kegiatan sosial.
Beli satu tangkai dan kuserahkan padanya, gak perlu harus sambil jongkok mirip di FTV,
"Untukmu" sambil menyodorkan setangkai mawar merah tadi
dan tiba-tiba hening
***
Gak betah lagi nungguin teman, akhirnya kami memutuskan untuk "lebih agresif" nyamperin dia, berbekal alamat yang sudah dikirimnya via SMS. Tawar menawat dengan abang becak, setelah deal harga kamipun diantar ke alamat tersebut.
Wuih... asik juga naik becak menikmati malam kota Jogja, apalagi ada kamu disampingku. Ditambah lagi jalur kami melewati Stasiun Tugu, spot yang sudah saya impikan sejak kunjungan pertamaku tahun lalu untuk bisa foto disini. Akhirnya terbayar malam ini. Ngambil kesempatan mengabadikan gambar di spot ini dan juga memberikan kesempatan kepada bapak tukang becak utuk beristirahat sejenak.
***
Ketemu teman - Makan malam - Tidur "Saatnya istirahat"
-masih nyambung-

Sunday, December 7, 2014

Tour de Java I

Hari Jum'at tanggal 28 Nopember 2014
Sesuai jadwal penerbangan yang akan membawa kami ke Yogyakarta, hari ini saya udah nunggu manis di Hasanuddin Interational Airport (Maros-Makassar). Tiba di Airport sekitar jam 11.30 Wita, meskipun jadwal keberangkatan baru pada pukul 14.00, tapi saya sih gak masalah nungguin jadwal penerbangan darpada penerbangan yang nungguin kami :).
Nunggu selama ini, gak terlalu jadi masalah, soalnya sempat ketemu rombongan teman kuliah yang maksud dan tujuannya sama dengan kami dan bakalan satu penerbangan. Bakalan reuni di pesawat nih. Setelah basa basi dikit, aku kemudian pamit untuk checkin duluan.
Dari tadi saya selalu menuliskan "Kami" kami disini adalah Aku dan Dia, dia yang sampai saya selesai checkin belum nyampe juga ke airport, itu berarti saya harus balik keluar dan duduk manis disertai pasang tampang manis nungguin "dia".
Pukul 13.30, rombongan teman teman yang saya temui tadi udah mulai masuk, tinggallah saya seorang diri yang gak tahan lagi masang muka manis. Saya mulai panik, dia beum nyampai airport juga, padahal penerbangan entar lagi, ditelponin jawabannya udah di jalan, udah dekat, udah hampir nyampe airport.
Gak bisa duduk manis lagi nih nunggunya. apaligi jarum jam udah nunjuk angka 13.45, dan dia masih dijalan.
Di monitor informasi keberangkatan, dengan jelas tertulis "Panggilan terakhir" pada penerbangan yang akan membawa kami, dia belum datang juga. Bisa nebak dong perasaan saya gimana.
"Kayaknya kita butuh tiket baru nih" SMS terkirim
14.00 Dia baru nyampe dan buru buru nyamperin aku, perasaan dongkul dan niat untuk memberikan kuliah aku tunda dulu. Harus gerak cepat, dalam hati cuman berharap agar penerbangan delay, atau setidaknya pilot pesawat yang akan membawa kami lupa bawa SIM dan harus balik nyari SIMnya dulu. :)
Masalah belaum berakhir, pas nyampe pemeriksaan lapis kedua, dia gak bawa Kartu Identitas.
Mateee...
Beneran gagal terbang kita nih.
Setelah bernegosiasi -baca: memelas- dengan bapak bapak berkumis petugas keamanan bandara, akhirnya kami diijinin masuk dan diantar sampai pintu ruang tunggu.
Huuft... Akhirnya...
Tapi masalah belum berakhir, pesawat udah mau terbang. Pilot ternyata gak lupa bawa SIMnya. Petugas maskapai langsung menghubungi pramugari yang bertugas dipesawat, agar nungguin kami berdua. Buka cuman kami berdua tepatnya, tapi bertiga sama seorang ibu-ibu. Kami langsung diantar oleh petugas masapai sampai masuk pesawat. Berasa penumpang VVIP. :)
Udah dalam pesawat pun masalah belum berakhir :) tapi masalah satu ini bisa dihadapi dengan mudah. Pasang muka cuek dari tatapan penumpang lain yang terpaksa duduk dipesawat lebih lama, karena penerbangan harus tertunda kurang lebih 20 menit.
Dengan pasang muka tidak berdosa, kami say hay dengan teman teman yang sudah duduk manis nunggu pramugari memperagakan penggunaan alat keselamatan penerbangan di pesawat.
Save Flight

-masih nyambung-

Tour de Java (intro)

Udah Desember aja nih... Postingan masih segitu gitu aja. jarang nulis. Ok, beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan kebeberapa daerah di wilayah NKRI :) mari kita cermati bersama, kisah nyata yang akan dikemas biar gak mainstream.

Tokoh Utama: Aku dan Dia